عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ
-صلى الله عليه وسلم قَالَ : « مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ
سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » وفي رواية ـ من آخر سورة
الكهف ـ
Dari Abu Darda’
radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi
shallallahu ‘alayhi wa sallam
bersabda, “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari bagian awal
surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal.” Dan
di dalam riwayat lain disebutkan, “(sepuluh ayat) dari bagian akhir
surat Al-Kahfi.”
(Diriwayatkan oleh Muslim I/555 no. 809, Ahmad V/196
no. 21760, Ibnu Hibban III/366 no. 786, Al-Hakim II/399 no. 3391, dan
Al-Baihaqi dalam
Syu’ab al-Iman V/453 no. 2344).
Salah satu senjata paling ampuh dalam menghadapi Dajjal adalah hafalan 10 ayat pertama QS Al-Kahfi. Bagaimana bisa?
Wallahu a’lam.
Namun, bila kita mencoba menghayati ayat-ayat ini, ada beberapa hikmah
tentang pengetahuan apa yang harus kita kuasai untuk mengidentifikasi
fitnah-fitnah Dajjal di akhir zaman ini.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al
Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;
Di ayat pertama ini, Allah memberi perhatian khusus pada karakteristik Al-Quran yang
tidak memiliki kebengkokan di dalamnya. Dalam Tafsir Jalalain, disebutkan bahwa yang dimaksud
kebengkokan di sini adalah
pertentangan dan perselisihan. Di ayat ini Allah menegaskan bahwa Al-Quran yang Allah turunkan kepada Rasulullah Muhammad mutlak bersih dari kebengkokan
dalam bentuk apapun (
‘iwajan menggunakan bentuk
ismun nakirah, umum,
indefinite, bermakna segala bentuk kebengkokan).
Di akhir zaman ini, kita melihat banyak sekali upaya-upaya orang
kafir dan bahkan orang yang mengaku muslim untuk mengekspos
“kontradiksi” dalam Al-Quran. Salah satunya bisa dilihat di sini:
http://www.1000mistakes.com/.
Allah Mahatahu akan hal ini. Oleh karena itu, Dia memerintahkan
rasulNya untuk memperingatkan umatnya bahwa upaya-upaya semacam ini
hanyalah omong-kosong belaka melalui petunjuk umum sebagaimana yang kita
dapat dari hadits di atas
.
Selain itu, penyebutan kata
‘iwajan dalam ayat tersebut
semestinya juga memantik perhatian kita untuk lebih dalam lagi
mempelajari Al-Quran agar kita tidak termakan oleh isu “kontradiksi”
Al-Quran yang dilancarkan orang kafir. Setidaknya ketika ada pertanyaan
semacam ini, “Mana yang benar, urusan langit yang dibawa para malaikat
itu naik kembali ke Allah dalam sehari yang kadarnya sama dengan
1.000 tahun atau
50.000 tahun?” kita masih mampu menjawab dengan tepat tanpa didahului keringat dingin. Bagaimana? Anda mampu?
قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ
وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ
لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا
sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang
sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada
orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan
mendapat pembalasan yang baik,
Biasanya, tahapan pendidikan Qur’ani adalah
basyiran (kabar gembira) baru kemudian
nadziran (peringatan) sebagaimana dalam
QS Al-Baqarah: 119. Namun, di ayat kedua QS Al-Kahfi ini tahapannya terbalik,
yundzira baru kemudian
yubasysyira. Peringatan lebih diprioritaskan daripada kabar gembira. Selain itu, pada
yubasysyira terdapat informasi yang jelas tentang target dan kontennya: targetnya adalah
al-mu’minin alladzina ya’malunash shalihat dan kontennya adalah
anna lahum ajran hasana. Sementara pada
yundzira tidak ada info tentang target. Yang ada hanya info konten, yaitu
ba’san syadidan min ladunhu.
Jadi, selain prioritas peringatan di akhir zaman ini lebih tinggi,
targetnya pun lebih luas karena tidak dibatasi sebagaimana kabar
gembira.
Secara tersirat, kita harusnya sadar bahwa ayat ini mengindikasikan
betapa rusaknya akhir zaman (ya zaman kita ini) sampai-sampai peringatan
dan ancaman harus lebih diutamakan daripada kabar gembira. Kita, yang
hidup di akhir zaman ini, semestinya tidak boleh terlalu
husnuzhzhan
terhadap apapun yang kita peroleh dari mayoritas manusia karena
sunnatullah generasi akhir zaman adalah lebih banyak rusaknya daripada
baiknya. QS Al-Kahfi: 2 ini adalah rekomendasi bagi kita, generasi akhir
zaman, agar senantiasa mempelajari Al-Quran dan lebih banyak mengingat
peringatan di dalamnya, baru kemudian kabar gembiranya.
مَّاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا
mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
Nah, kabar gembira di ayat ini cukup sederhana. Beriman DAN beramal
shalihlah kamu, maka kamu akan kekal di dalam pembalasan yang baik,
yaitu surga.
Though it’s more easily said than done, it’s indeed that simple.
وَيُنذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا
Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak”.
Nah, ini salah satu bagian paling menarik dari fragmen surah ini,
menurut saya. Kebanyakan kita cenderung menganggap bahwa ayat ini
berbicara tentang orang Nasrani. Hohoho… Jangan terburu-buru. Coba kita
perhatikan lagi, adakah disebutkan dalam ayat ini dan ayat-ayat
setelahnya secara spesifik bahwa yang berkata, “Allah mengambil seorang
anak,” itu hanya kaum Nasrani? Tidak ada! Bahkan, nanti kita akan lihat
bahwa ayat ini juga berkenaan dengan orang-orang sebelum kaum Nasrani.
Yang sangat menarik dari ayat ini adalah betapa Allah memberi porsi
khusus untuk peringatan kepada orang-orang yang meyakini bahwa Allah
mengambil atau mengangkat seorang anak. Ayat ini, yang merupakan bagian
dari fragmen surah yang menurut Rasulullah
SAW dapat
menyelamatkan kita dari fitnah Dajjal, mengindikasikan bahwa di akhir
zaman ini terdapat fitnah yang begitu besar dari sistem-sistem keyakinan
yang mengajarkan bahwa “Tuhan mengambil anak”.
Kita muslimin Indonesia sangat rentan menganggap bahwa ayat ini berbicara tentang Nasrani. Namun, bila kita perhatikan
seluruh
kebudayaan musyrik di muka bumi ini, mulai dari paganisme sampai
Judeo-Christianity, mulai dari Arab pra-Islam sampai Shinto, semuanya
meyakini bahwa Tuhan telah mengambil satu atau beberapa anak! Ayat tadi
sesungguhnya sedang mengarahkan perhatian kita kepada satu karakteristik
dasar dari seluruh kesyirikan di muka bumi! Tidakkah kita
memperhatikan?
Selain itu, jika kita mau
look into the big picture, akan kita dapati bahwa
seluruh teologi musyrik di dunia ini memiliki satu kerangka yang sama, yaitu
trinitas. Kesamaan-kesamaan ini telah diungkapkan pula di ayat berikutnya.
مَّا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا
Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.
Perhatikan, ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang meyakini
“Allah telah mengambil seorang anak” sesungguhnya bukan kaum pertama
yang berkata demikian. Sebelum mereka, telah ada kaum lain yang meyakini
hal serupa.
Abaihim di sana tidak
letterlijk bermakna
bapak-bapak mereka saja, tapi justru lebih luas, yaitu mencakup juga
orang-orang sebelum mereka, sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Jalalain. Silakan rujuk ke quran.com dan aktifkan opsi “
Tafsir الجلالين” di sana.
Baik yang terdahulu maupun terkemudian, semuanya sama-sama buruk,
dusta, dan celaka. Dan, karena Rasulullah SAW sudah mengabarkan bahwa
hafalan 10 ayat pertama Al-Kahfi dapat melindungi kita dari fitnah
Dajjal, maka dapat disimpulkan bahwa semua kaum yang meyakini “Allah
telah mengambil anak”
pasti punya hubungan dengan Dajjal,
baik langsung maupun tidak, baik disadari maupun tidak. Mulai sekarang,
perhatikanlah semua sistem keyakinan semacam ini dan lihatlah betapa
mereka semua sesungguhnya sedang berjalan menuju satu pusat yang sama:
penyambutan datangnya Al-Masih Ad-Dajjal.
Untuk ayat 6 sampai 8-nya, jujur, saya belum menemukan bagaimana
kaitan spesifiknya dengan fenomena fitnah Dajjal pada hari ini. Jadi,
for the moment, kita langsung loncat ke ayat 9-nya saja, yak. Nggak apa-apa, yak.
أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا
Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang
mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang
mengherankan?
Di ayat 9 ini, Allah mengarahkan perhatian kita kepada kisah Ashabul
Kahfi. Kisah ini sendiri dalam QS Al-Kahfi sebenarnya diceritakan sejak
ayat 9 ini sampai ayat 26. Namun, mengapa hanya sampai ayat 10 yang
Rasulullah sebut dapat menyelamatkan umatnya dari fitnah Dajjal?
Bagi saya, sekali lagi hanya bagi saya pribadi, ini adalah isyarat
bahwa ada beberapa karakteristik mendasar dari peristiwa Ashabul Kahfi
yang akan dialami juga oleh orang-orang beriman di masa kekuasaan Dajjal
atas umat manusia. Karakteristik yang saya maksud adalah sebagai
berikut:
- Ashabul Kahfi adalah para pemuda yang beriman kepada Allah semata di
saat mayoritas penduduk negeri dan penguasa mereka menganut paganisme.
Produk turunan paganisme hari ini adalah demokrasi dan agama Kristen
(akar hari raya Natal disinyalir adalah hari lahir Mitras, sesembahan
salah satu sekte pagan Romawi; akar hari raya Paskah/Easter disinyalir
adalah pemujaan terhadap Ishtar dari Babilonia, atau Astarte dari
Yunani, atau Ashtoreth dari Yahudi).
- Ashabul Kahfi tidak mampu melawan penguasa dengan tangan dan lisan.
Mereka hanya mampu melawan dengan hati yang resisten. (Sekarang, siapa
yang bisa menentang kebijakan uang kertas, sistem pemerintahan
parlementer, pengambilan hukum dari sumber selain Al-Quran, dan
legalisasi zina?)
- Ashabul Kahfi tidak dimenangkan dalam peperangan. Mereka hanya
diselamatkan oleh Allah dari rencana penangkapan yang disusun Kaisar
Trajan. (Saat ini pun kita tidak bisa berharap menang dari mayoritas
paganis yang menguasai dunia. Kita hanya bisa berharap Allah menolong
kita mempertahankan iman tauhid kepadaNya semata.)
- Ashabul Kahfi melarikan diri dan bersembunyi di gua. (Mungkin ini
cara paling efektif untuk menghadapi Dajjal sistemik hari ini? Yah, kita
nggak usah segitu banget juga. Maksudnya, kita “mengurung diri” di
komunitas yang terpisah sama sekali dari segala hiruk-pikuk fitnah zaman
ini sambil terus membangun kemandirian hidup dan kedekatan dengan Allah
di komunitas ini.)
Mungkin segini saja karakteristik yang bisa saya data. Kalaupun ada
tambahan, pastinya karakteristik itu berasal dari fragmen kisah mereka
sebelum mereka tertidur. Mengapa? Karena kisah tidurnya mereka hingga
dibangunkan dan pada akhirnya meninggal sudah berada di luar rentang
ayat 1 sampai 10. Yang dikabarkan Rasulullah dapat menolong kita dari
fitnah Dajjal hanya hafalan ayat 1 sampai 10 dari QS Al-Kahfi.
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke
dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat
kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang
lurus dalam urusan kami (ini)”.
Nah, ayat 10 cuma sampai sini. Cuma sampai momen ketika Ashabul Kahfi
berlindung ke dalam gua dan berdoa seperti di atas. Bagi saya, ini
adalah indikasi bahwa karakteristik fitnah yang kita hadapi di akhir
zaman ini sangat mirip dengan karakteristik fitnah di zaman Ashabul
Kahfi, TAPI mukjizatnya tidak. Kita tidak akan tertidur selama 300 tahun
Masehi dan tiba-tiba bangun di zaman Imam Mahdi, Ratu Agung, Satrio
Piningit, atau bahkan Kerajaan Tuhan 1000 tahun. Tidak. Fitnahnya
mungkin mirip, malah justru lebih parah, tapi kali ini kita akan
menghadapinya secara manusiawi, bukan dengan bantuan mukjizat,
setidaknya sampai Nabi Isa atau Yesus putra Maryam turun ke bumi.
Oleh karena itu, selagi menunggu mukjizat, yang bisa kita lakukan
hanyalah memperkuat keimanan kita sekuat mungkin, berlindung dari segala
fitnah zaman ini, sambil terus memohon kepada Allah, “Wahai Tuhan kami,
berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami
petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”